Tampilkan postingan dengan label Aku bukan detektif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku bukan detektif. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Mei 2015

Aku bukan detektif #4

Jebakan


Meet n Greet pun dimulai,
Dengan sepanduk tertuliskan : Detektif baru dengan insting baru akan memecahkan kasus pembunuhan calon dekan.

"Ehem." Aku berdehem tak tau harus mulai berbicara apa. Aku menatap ke arah Jack yang duduk di sebelah kiriku. Dia tersenyum sambil memberi aba-aba untuk segera bicara. Tapi apa yang harus aku bicarakan. Meet n Greet diadakan di salah satu ruang kelas di kampusku ini. Kenapa ga di aula kampus? Ya karena disana sudah diadakan acara Developing Personal apalah itu, aku ga tau dan ga mau tau. Karena acara itu aku jadi terasingkan di ruang kelas ini dengan hanya ada dua orang yang mendatanginya, yaitu aku dan Jack.

Rabu, 29 April 2015

Aku bukan detektif #3

Detektif Jack


Hari ini,
Waktunya untuk memakamkan ayah. Jasad ayah yang telah terotobsi memberikan beberapa petunjuk. Aku sengaja membiarkan mereka mengotobsinya. Karena ayah pernah bilang, "Andai kelak aku mati, jangan sia-siakan jasadku. Pergunakanlah untuk mencari petunjuk. Karena ku yakin, suatu saat nanti pasti akan ada penjahat yang mengincarku." Saat itu aku hanyalah seorang bocah polos.

Aku tertunduk menatap tanah tempat ayah dikuburkan. Seseorang dari belakang merangkulku, "Oy, jangan sedih dong." Katanya, aku pun menepis tengannya dan menatapnya. Dia tampak tak lebih tua dari ayahku.

Senin, 27 April 2015

Aku bukan detektif #2

Korban ke dua


Ada seorang gadis bertamu di rumah, dia manis, tingginya mungkin sekitar 165cm, dia imut, tipe cewek idamanku dan dia sekelas denganku. Namanya Nina, aku nggak tahu kenapa, tapi dia sedang meminta ayahku untuk memecahkan kasus pak David kemarin.

Di rumah ini, kami hanya tinggal berdua. Ibuku sudah lama pergi karena tak tahan dengan sifat ayah yang selalu bertingkah sok keren ke perempuan lain. Inilah resikonya orang keren.

Jumat, 24 April 2015

Aku bukan detektif #1

Saksi Bisu


Di depanku,

Terpampang jelas mayat dosen kelasku.

Dia terjatuh dari lantai tiga gedung kuliahku, tepat di depan mataku. aku terdiam kaku melihatnya, Mataku terbuka lebar menerawang mayat yang sudah terbanjiri oleh darahnya.